Show Your Feeling with Your Writing (Mahdiah Maimunah_Dept.Kemuslimahan) KONFERENSI Ed. APRIL

Writing = Show your Feel

semangat-menulis

Menulis adalah cara paling simple menyuarakan kepekaan hati. Kadang bagi sebagian besar penulis-seseorang yang suka menulis atau meluangkan waktunya menulis- menulis lebih nyaman untuk dilakukan daripada berbicara secara langsung. Tiada batas keseganan yang harus ditatap, tiada kalut yang menyergap karena tak sigap. Semuanya mengalir.

Ruang menulis menjadi kepuasan tersendiri para pelakonnya, karena dengan opini dan bukti yang membersamai tulisannya mampu membuka kebekuan pikiran, membuka kekerasan hati para pembaca. Show your feel yang dimaksud di sini bukan bentuk ekspresi emosional yang mengalir tanpa kematangan analisis. Tapi seperti ini: “Kalau saya tidak menulis, hanya saya sendiri yang tahu betapa peliknya masalah ini menguasai hajat hidup orang banyak. Kalau saya tidak menulis saya tidak bias membagi ide saya ke banyak orang. Kalau saya tidak menulis kebenaran ini bias jadi tak akan terungkap. Kalau saya tidak menulis, pembelajaran yang saya rasakan hanya bermanfaat buat saya sendiri.”

Bahkan uniknya, menulis bias menjadi sarana refleksi antar aktivis. Misalnya, dari tulisan yang diposting di ruang public, kita jadi tahu bahwa wawasan si A sudah sampai sejauh mana, seberapa dalam analisisnya, seberapa buat bukti referensi yang digunakannya. Sementara tulisan kita mungkin belum sesistematis yang lain atau bahkan kurang sebaik tulisan aktivis2 yang lain. Bahkan yang bias jadi membuat kita terpekur, mereka dengan kapasitas intelektualnya bias menghidupkan suasana kritis melalui tulisannya sementara kita belum berani menulis atau untuk membaca berbagai rujukan masih malas.

Dari tulisan ke tulisan: dari rajin-rajin membaca tulisan memudahkan kita menghasilkan tulisan juga. Bahkan tulisan yang kita buat tak relative jauh dari tulisan2 yang kit abaca. Ini juga yang semestinya jadi pelecut kita buat mengisi ruang2 kosong di memori otak kita: membaca berarti menambah suplemen tsaqafah dan keilmuan dan menulis jadi pengikatnya. Secara otomatis juga dengan budaya baca tulis –yang sewajarnya tak cukup semasa SD kita menjadi kenal istilah-istilah baru yang bias dibilang keren. Lucu saja jika semenjak kecil sampai saat ini kata-kata yang dikenal hanya bahasa ibu.

Terjun ke dunia mahasiswa, mengikuti berbagai organisasi dan aktif di dalamnya akhirnya membuat saya menyadari bahwa tulisan-tulisan yang luar biasa dimulai dari dorongan yang tak pernah putus untuk melakukan budaya ini. Ada yang menargetkan perharinya mampu menyelesaikan beberapa tulisan atau beberapa halaman, ada yang memiliki target mingguan dan variasi jangka target lainnya. Intinya ada keistiqamah dengan budaya tersebut. Saling sharing dan mengomentari juga menjadi hal penting dalam peningkatan kapasitas tulisan dan support yang menyenangkan. (cc: KAMMI Madani dengan GKM/Gerakan KAMMI Menulisnya).

Sebuah pelajaran penting bagi saya dan alasan penting mengapa budaya menulis harus tetap ada adalah tulisan itu guru yang tidak mengajari secara mutlak, teman yang mengingatkan dengan cair dan stimulus yang baik untuk memengaruhi kebekuan. Seperti kisah berbalas tulisan antara Soekarno dan Natsir. So, show your feel, show your ideas, show your dream, show your care with your writing.

#MedSos Menulis

(Sabtu, 5 April 2014)

sumber gambar: http://ahmadchan.files.wordpress.com/2014/03/e-book-semangat-menulis.jpg

Advertisements