#YukBaca_Ed.2_1Mei2014

Cover Dua Sisi Umar buku copy

“Sosok Umar bin Khaththab itu unik. Pada dirinya terpancar dua sisi keteladanan. Ia pemimpin tapi merakyat. Ia ahli diplomasi tapi sangat menghormati hak orang lain. Ia tokoh zuhud yang membenci kemiskinan. Ia dikenal sangat berani tapi sering ditemukan menangis di keheningan malam. Ia sangat tegas tapi begitu lembut sehingga pendapatnya pernah dikalahkan hanya oleh usul seorang wanita tua.

Buku ini tak hanya bicara tentang Umar bin Khattab tapi juga para sahabat Rasulullah SAW yang lainnya. Kita akan belajar ketegasan dari sosok Abu Bakar ash-Shidiq dalam membasmi pembangkangan zakat dan nabi palsu. Kita juga akan bercermin kepada sosok Bilal bin Rabah yang merangkum banyak sisi keteladanan istiqamah, zuhud, ahli perang, dan rendah hati, bukan sekadar ‘Tukang Adzan’.

Ada juga teladan dari Abdullah bin Amr bin Ash. Selain sebagai ahli ibadah, putra sahabat Nabi SAW Amr bin Ash ini juga biasa menulis. Inilah yang membuatnya lebih dibanding Abu Hurairah. Semua kisah ‘lama’ itu dikaitkan dengan konteks kekinian sehingga Ia kembali menjadi ‘baru’.

Buku yang pernah best seller di Malaysia ini, kini berada di tangan anda.”

 

Diambil dari narasi di cover belakang Dua Sisi Umar Bin Khaththab, tanpa gubahan

Mudah-mudahan memotivasi untuk membaca.^^

 

#MuslimNegarawanCintaBaca

KammiMedsosUINjkt_#TransformasiOrganisasi

 

RESUME MANTUBA 1

Resume by : Popon Patonah

TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA’BUDU
WA IYYAKA NASTA’IN
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

1. Mahabbah
Mahabbah (cinta) merupakan tempat persinggahan yang menjadi ajang perlombaan di antara orang-orang yang suka berlomba, menjadi sasaran orang-orang yang beramal dan menjadi curahan orang-orang yang mencintai. Cinta adalah ruh iman dan amal, kedudukan dan keadaan,
yang jika cinta ini tidak ada di sana, maka tak ubahnya jasad yang tidak memiliki ruh.

Sebab-sebab Yang Mendatangkan Cinta kepada Allah
1. Membaca Al-Qur’an dengan mendalami dan memahami makna maknanya, seperti yang dikehendaki, tak berbeda dengan menelaah buku yang harus dihapalkan seseorang, agar dia dapat memahami maksud pengarangnya.
2. Taqarrub kepada Allah dengan mengerjakan shalat-shalat nafilah sete-lah shalat fardhu,
3. Senantiasa mengingat dan menyebut asma-Nya dalam keadaan bagaimana pun, baik dengan lisan dan hati, saat beramal dan di setiap keadaan.
4. Lebih mementingkan cinta kepada-Nya daripada cintamu pada saat engkau dikalahkan bisikan hawa nafsu
5. Mengarahkan perhatian hati kepada asma’ dan sifat-sifat Allah, mempersaksikan dan mengetahuinya.
6. Mempersaksikan kebaikan, kemurahan, karunia dan nikmat Allah yang zhahir maupun yang batin,
7. Kepasrahan hati secara total di hadapan Allah.
8. Bersama Allah pada saat Dia turun ke langit dunia, bermunajat kepada- Nya, membaca kalam-Nya, menghadap dengan segenap hati, memperhatikan adab-adab ubudiyah di hadapan-Nya, kemudian menutup dengan istighfar dan taubat.
9. Berkumpul bersama orang-orang yang juga mencintai-Nya secara tulus,
10. Menyingkirkan segala sebab yang dapat membuka jarak antara hati dan Allah.

2. Cemburu
Di dalam Ash-Shahih juga disebutkan dari hadits Abu Salamah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam bersabda,: “Sesungguhnya Allah itu cemburu dan sesungguhnya orang Mukmin itu cemburu. Kecemburuan Allah ialah jika hamba melakukan apa yang diharamkan-Nya.”

Cemburu ada dua macam: Cemburu dari sesuatu dan cemburu terhadap sesuatu. Cemburu dari sesuatu ialah kebencianmu kepada sesuatu yang bersekutu dalam mencintai kekasihmu. Sedangkan cemburu terhadap sesuatu ialah hasratmu yang menggebu terhadap kekasih, sehingga engkau merasa takut andaikan orang lain beruntung mendapatkannya atau ada orang lain yang bersekutu untuk mendapatkannya.

Al-Junaid berkata, “Aku pernah mendengar As-Sary berkata, “Rindu merupakan kedudukan yang mulia bagi orang yang memiliki ma’rifat. Jika dia dapat mewujudkan kerinduan itu, maka perhatiannya hanya tertuju kepada siapa yang dia rindukan. Karena itu para penghuni surga senantiasa merindukan Allah, sekalipun mereka dekat dan dapat melihat- Nya.”
3. Rindu
Allah befirman berkaitan dengan tempat persinggahan ini,”Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan Allah itu pasti datang.” (Al-Ankabut: Ada yang berpendapat, ini merupakan hiburan bagi orang-orang yang rindu. Dengan kata lain, Aku tahu bahwa siapa yang mengharap perjumpaan dengan-Ku, berarti dia rindu kepada-Ku. Aku telah mempercepat waktu baginya sehingga terasa dekat, dan waktu itu pasti akan datang. Sebab segala sesuatu yang akan datang itu dekat.

Cinta lebih tinggi daripada rindu, sebab rindu muncul dari cinta. Kuat dan lemahnya rindu ini tergantung kepada cinta.

Al-Junaid berkata, “Aku pernah mendengar As-Sary berkata, “Rindu merupakan kedudukan yang mulia bagi orang yang memiliki ma’rifat. Jika dia dapat mewujudkan kerinduan itu, maka perhatiannya hanya tertuju kepada siapa yang dia rindukan. Karena itu para penghuni surga
senantiasa merindukan Allah, sekalipun mereka dekat dan dapat melihat- Nya.”

4. Keresahan
Kerinduan ini bisa menjadi-jadi dan terbebas dari kesabaran, yang kemudian disebut keresahan. Begitulah sebutan yang diberikan pengarang Manazilus-Sa’irin. Hal ini dikuatkannya dengan firman Allah yang mengisahkan Musa Alaihis-Salam, yang berkata, “Aku bersegera kepada-Mu, ya Rabbi, agar Engkau ridha (kepadaku).” (Thaha: 84).

Seakan-akan Syaikh memahami, bahwa Musa bersegera karena didorong oleh keresahan hati, yaitu membebaskan kerinduan dengan bertemu Allah. Tapi menurut zhahir ayat ini, bahwa yang mendorong musa tergesa-gesa ialah karena mencari keridhaan-Nya, dan keridhaan Allah muncul jika segera melaksanakan perintah-Nya. Karena ayat inilah orang-orang salaf berhujjah bahwa shalat pada awal waktu itu lebih afdhal.

5. Haus
Pengarang Manazilus-Sa’irin berkata, “Haus merupakan kiasan tentang kesukaan yang berat terhadap sesuatu yang diharapkan.”

6. Albarqu
Al-Barqu atau kilat merupakan salah satu cahaya iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, yang menerangi hamba saat masuk ke jalan orangorang yang benar. Pengarang Manazilus-Sa’irin mengatakan, “Kilat merupakan awal kilauan yang tampak di hadapan hamba, lalu mengajaknya untuk masuk ke jalan ini.” Syaikh menguatkan hal ini dengan firman Allah, “Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu ia berkata kepada keluarganya, ‘Tinggallah kamu (di sini) sesung-guhnya aku melihat api’.” (Thaha: 9-10).

7. Memperhatikan
Syaikh berkata, “Memperhatikan artinya melihat secara sepintas lalu.” Artinya memandang dengan cara mencuri-curi, sehingga yang dipandang tidak merasa bahwa dia sedang dipandang. Mencuri-curi pandang ini memiliki tiga sebab: Pengagungan dan keagungan yang dipandang, sehingga yang memandang mencuri-curi pandangan ke arahnya serta tidak memandang dengan pandangan yang tajam sebagai sikap pengagungan kepadanya. Hal ini seperti yang dilakukan para shahabat terhadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka tidak pernah memandang dengan pandangan yang tajam terhadap beliau, sebagai penghormatan dan pengagungan terhadap beliau. Arar bin Al-Ash berkata, “Aku tidak pernah memandang secara utuh ke arah beliau, sebagai pengagungan terhadap beliau. Jika aku diminta untuk mensifati diri beliau, maka aku tidak akan mampu, karena aku tidak pernah memandang beliau secara sempurna.”

8. Waktu
Waktu menurut Syaikh merupakan ungkapan tentang kedekatan satu peristiwa dengan peristiwa lain atau merupakan hubungan antara dua peristiwa. Waktu merupakan wadah temporal yang di dalamnya ada kejadian.

Menurut Abu Ali Ad-Daqqaq, waktu adalah sesuatu yang engkau ada di dalamnya. Jika engkau di dunia, maka waktumu adalah dunia. Jika engkau berada di akhirat, maka waktumu adalah akhirat. Jika engkau berada dalam kegembiraan, maka waktumu adalah kegembiraan. Jika
engkau berada dalam kesedihan, maka waktumu adalah kesedihan itu. Artinya, waktu adalah keadaan yang lebih menguasai manusia. Atau bisa juga diartikan, bahwa waktu adalah apa yang ada di antara dua masa, lampau dan mendatang. Ini merupakan istilah yang lebih sering mereka
gunakan, Maka mereka berkata, “Orang sufi dan orang fakir adalah anak waktunya.” Artinya, hasrat yang dimiliki seorang hamba tidak melebihi tugasnya untuk mengisi hidupnya. Inilah yang paling penting dan paling bermanfaat baginya. Dia dituntut melakukan apa yang ada pada saat itu pula, tidak perlu memperhatikan yang sudah lampau dan mendatang. Dia cukup memperhatikan waktu yang ada. Karena memperhatikan waktu dan yang lampau mendatang hanya akan menyia-nyiakan waktu yang ada. Jika datang suatu waktu, maka dia harus meninggalkan dua sisi waktu itu, agar semua waktunya dapat ditinggalkan.14

Dalam kaitannya dengan waktu, mereka membagi orang sufi menjadi
empat golongan

 Orang-orang yang bersama waktu lampau. Hati mereka senantiasa ada dalam ketetapan Allah, karena mereka menyadari bahwa hukum aza-ly tidak bisa dirubah oleh usaha hamba. Sekalipun begitu mereka tetap rajin melaksanakan perintah, menjauhi larangan, bertaqarrub kepa-da Allah dengan berbagai macam ketaatan, sekalipun mereka tidak begitu yakin akan semua itu.

 Orang-orang yang bersama waktu mendatang. Pikiran mereka hanya tertuju kepada kesudahan urusan mereka, karena segala urusan dan amal diukur dari kesudahannya. Padahal apa yang terjadi nanti tidak bisa diketahui. Berapa banyak musim semi yang membuat pepohonan berbinar, bunga-bunganya merekah, buah-buahnya ranum, tapi be-gitu cepat pepohonan itu ditimpa bencana dari langit tanpa diduga-duga, sehingga keadaannya seperti yang difirmankan Allah, “Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orangyang berpikir.” (Yunus: 24).

 Orang-orang yang bersama waktu yang ada. Mereka tidak rnenyibuk-kan diri dengan waktu yang lampau dan tidak pula dengan waktu yang akan datang. Perhatian mereka hanya tertuju pada waktu yang ada dan hukum-hukumnya. Mereka berkata, “Orang yang arif ialah yang menjadi anak waktunya, tidak ada waktu lampau dan tidak ada waktu mendatang.”

 Orang-orang yang bersama pemilik waktu dan saat, penguasa dan yang menanganinya, yaitu Allah, dan mereka tidak peduli terhadap waktu itu sendiri.

9. Kejernihan
Allah befirman kaitannya dengan persinggahan ini, “Dan, sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shad: 47) Shafa’ artinya terbebas dari kekeruhan atau jernih. Sedangkan dalam pembahasan ini berarti gugurnya keragu-raguan. Sisi pelandasannya kepada ayat di atas, bahwa kata mushthafa (pilihan) yang disebutkan di dalam ayat ini merupakan bentukan dari shafwah (jernih atau bersih). Artinya saringan sesuatu dan membersihkannya dari hal-hal yang mengotorinya.

10. Kegembiraan
Sedangkan kegembiraan adalah kelezatan yang ada di dalam hati karena mengetahui yang dicintai dan mendapatkan apa yang diingin-kan. Hal ini menimbulkan suatu keadaan yang disebut kegembiraan dan kesenangan, sebagaimana kesedihan dan kedukaan karena kehilangan yang dicintai. Jika kehilangan yang dicintai ini menimbulkan kesedihan dan kedukaan, maka mengingat karunia dan rahmat Allah mendatangkan kegembiraan. Firman-Nya, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu perjalanan dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

11. Napas

12. Ghurbah
Pengarang Manazilus-Sa ‘irin mensitir firman Allah berkaitan dengan masalah ghurbah (keasingan), “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kalian orangorang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.” (Hud: 116).

Pelandasannya kepada ayat ini dalam masalah ghurbah menunjukkan kedalamannya dalam ilmu dan ma’rifat serta pemahamannya tentang Al-Qur’an. Orang-orang yang asing di dunia ini adalah mereka yang disifati dalam ayat di atas dan mereka yang telah
diisyaratkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sabdanya, “Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaannya. Maka beruntunglah orangorang yang asing”. Ada yang bertanya, “Siapakah orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang
yang berbuat baik selagi manusia berbuat kerusakan.”

Ada tiga macam ghurbah, yaitu:
Ghurbah Pertama: Keasingan orang-orang yang mengikuti Allah dan Sunnah Rasul-Nya di antara manusia ini. Ini merupakan keasingan yang pelakunya dipuji Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tentang agama yang dikabarkan, bahwa ia bermula dalam keadaan asing dan kembali menjadi asing seperti permulaannya serta yang pelakunya menjadi asing.
Ghurbah Kedua: Ghurbah yang tercela, yaitu keasingan orang-orang yang batil dan yang berbuat keji di tengah orang-orang yang benar dan lurus. Ini berarti mengasingkan diri dari golongan Allah yang mendapat keberuntungan. Sekalipun jumlah mereka itu banyak, toh mereka tetap disebut orang-orang asing. Mereka dikenal di antara penghuni bumi namun tidak dikenal di antara penghuni langit.
Ghurbah Ketiga: Ghurbah yang tidak terpuji dan juga tidak tercela. Ini merupakan keasingan karena meninggalkan kampung halaman. Semua manusia di dunia ini adalah orang asing, karena memang dunia ini bukan merupakan tempat yang abadi bagi mereka dan bukan merupakan tempat yang diciptakan sebagai tempat yang abadi. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma,”Jadilah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau pengembara.” Pengarang Manazilus-Sa’irin mengatakan, “Keasingan merupakan perkara yang diisyaratkan kepada kesendirian tanpa ada yang menyertai.” Artinya, setiap orang yang menyendiri dengan suatu sifat yang mulia, sementara orang lain tidak memilikinya, maka dia adalah orang asing di tengah-tengah mereka.
13. Tamakkun (kesanggupan hati)
“Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Rum:60).
Sisi pelandasannya kepada ayat ini sangat jelas, bahwa orang yang mantap hatinya tidak peduli terhadap banyaknya kesibukan, tidak terusik oleh pergaulannya dengan orang-orang yang lalai dan batil. Bahkan dia menjadi mantap dengan kesabaran dan keyakinannya, sehingga dia tidak gelisah karena tindakan mereka terhadap dirinya. Karena itu Allah befirman sebelumnya,
“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu adala benar.” (Ar-Rum: 60).
14. Mukasyafah (pengungkapan)
“Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (An-Najm: 10). Sisi pelandasannya kepada ayat ini, bahwa Allah mengungkap kepada hamba-Nya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang tidak diungkapkan-Nya kepada selain beliau, memperlihatkan apa yang tidak diperlihatkan-Nya kepada selain beliau, hingga hati beliau mendapatkan pengungkapan berbagai macam hakikat, yang tak pernah terlintas di dalam sanubari orang lain, hakikat yang dikhususkan bagi beliau.

15. Musyahadah (menyaksikan)
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaf: 37).Allah menjadikan kalam-Nya sebagai peringatan. Tidak ada yangbisa mengambil manfaat dari kalam-Nya kecuali orang yang bisa menghimpun tiga perkara ini:
• Harus memiliki hati yang hidup dan sadar. Jika tidak, maka dia tida bisa mengambil manfaat dari peringatan.
• Harus menyimak dengan pendengarannya dan menghadapkannya secara keseluruhan kepada lawan bicara. Jika tidak, maka dia tidak akan bisa mengambil manfaat dari perkataannya.
• Harus menghadirkan hati dan pikirannya di hadapan orang yang berbicara dengannya. Dengan begitu dia menyaksikan secara langsun atau hadir. Jika hatinya tidak hadir dan melancong ke tempat lain, maka dia tidak akan bisa mengambil manfaat dari pembicaraan yang ada.
16. Hayat
“Dan, apakah orang yang sudah mati lalu dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (Al-An’am: 122).
Sisi pelandasannya kepada ayat ini sangat jelas. Maksudnya siapa yang hatinya mati, tidak memiliki ruh ilmu, petunjuk dan iman, maka kemudian Allah menghidupkannya dengan ruh lain, tidak seperti ruh yang diberikan Allah untuk menghidupkan jasadnya, yaitu ruh ma’rifat dan tauhid, cinta dan beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan- Nya. Sebab tidak ada kehidupan bagi ruh kecuali yang seperti demikian itu. Jika tidak, maka ia termasuk orang-orang yang mati. Karena itu Allah mensifati orang yang tidak memiliki kehidupan ini sama dengan orang yang sudah mati.
Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah merupakan wujud ketakutan kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui adalah shadaqah dan membiayai orang yang berilmu adalah taqarrub. Ilmu merupakan petunjuk yang halal dan yang haram, menara jalan para penghuni surga, teman pada saat takut, rekan saat sendirian, bukti pada saat lapang dan sempit, senjata saat menghadapi musuh dan hiasan di samping teman-teman. Dengan ilmu Allah meninggikan beberapa kaum dan menjadikan mereka pelopor dalam kebaikan dan pemimpin yang jejaknya diikuti. Perbuatan mereka ditiru dan pendapat mereka diandalkan. Para malaikat menyukai perkumpulan mereka dan mengusap dengan sayap-sayapnya. Siapa pun memintakan ampunan bagi mereka, termasuk pula ikan paus di lautan dan binatang buas di daratan. Sebab ilmu merupakan kehidupan hati dari kebodohan dan pelita bagi penglihatan dari kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba bisa mencapai kedudukan yang paling baik dan dera-jat yang tinggi di dunia serta di akhirat. Memikirkan ilmu menyerupai puasa dan mengkajinya menyerupai shalat malam. Dengan ilmu, tali per-saudaraan dapat dijalin, dengan ilmu dapat diketahui mana yang halal dan mana yang haram. Ilmu adalah imam amal dan amal mengikutinya. Orang-orang yang berbahagia diberi ilham ilmu dan orang-orang yang menderita tidak mendapatkannya.” (Diriwayatkan Ath-Thabrany dan Ibnu Abdil- Barr serta lain-lainnya serta dimarfu’kan kepada Nabi Shal-lallahu Alaihi wa Sallam).
17. Al-Basthu
18. As-Sukru (Mabuk)
19. Ittishal (bersambung)
20. Ma’rifat
“Dan, apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui.”(Al-Maidah: 83).Ma’rifat artinya meliputi sesuatu seperti apa adanya. Saya katakan, bahwa di dalam Al-Qur’ an terkadang disebutkan laf azh ma’ rifat dan adakalanya disebutkan lafazh ilmu. Lafazh ilmu yang banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an memiliki batasan yang relatif lebih luas. Allah memilih bagi Diri-Nya asma Al-Ilmu dan segala kaitannya. Allah mensifati Diri- Nya dengan Al-Alim, Al-Allam, alima, ya’lamu, dan mengabarkan bahwa Dia memiliki ilmu, tanpa menggunakan lafazh ma’rifat. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, apa yang dipilih Allah untuk Diri-Nya adalah yang paling sempurna jenis dan maknanya. Lafazh ma’rifat disebutkan di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan orang-orang Mukmin dari Ahli Kitab secara khusus, seperti firman-Nya yang disebutkan di atas, yaitu orang-orang yang mendengarkan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah.
21. Al-Fana’
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan, tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26- 27).
22. Al-Baqa’ (kekal)
“Dan, Allah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 73).
23. Wujud
24. Al-Jam’u (penyatuan)
Syaikh berkata, “Al-Jam’u ialah yang menggugurkan pemisahan, memotong isyarat, menutup mata dari air dan tanah, setelah ada kebenaran ketetapan, keanekaragaman dan kesaksian yang mendua. Penyatuan ada tiga derajat: Penyatuan ilmu, penyatuan wujud dan penyatuan diri.”
25. Tauhid

KEBAHAGIAAN DUNIA (MIMBAR_Ed.Sabtu_26Apr2014)

Motivasi Islami Mingguan #BersamaAyoRenungkan

Ed.Sabtu_26Apr2014
by: Miftahul Jannah Salwah Ummah FKIK 2012 Dept Kebijakan Publik

KEBAHAGIAAN DUNIA

BAHAGIA. Ia adalah sebuah kata yang banyak menjadikan manusia menjadi hina. Mengapa begitu? Sebab Ia didefinisikan sebagai terpuaskannya hawa nafsu. Sebagai seorang pemuda di era globalisasi, pikiran-pikiran tersebut bisa saja menghampiri. Di tengah pergaulan yang serba bebas dan seolah-olah tanpa batas, hanya keteladanan Islam yang mampu menjadi pembatas. Sebuah pembatas yang memisahkan antara kebahagiaan dunia yang SEMU dengan kebahagiaan yang HAKIKI.

Image

Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang dapat mengantarkan pengikutnya menuju BAHAGIA YANG SESUNGGUHNYA. Meskipun dunia ini hanya ladang amal semata dan bukan persinggahan abadi, namun apakah kita sebagai seorang muslim tidak pantas merasakan kebahagiaan di dunia ini? Jawabnya adalah boleh. Dengan catatan, kebahagiaan dunia adalah bagian dari usaha menggapai kebahagiaan di akhirat kelak. Lantas bagaiman cara meraih kebahagiaan dunia yang berbuah syurga? Ibnu Abbas ra. mewasiatkan 7 kunci KEBAHAGIAAN DUNIA tersebut.

  1. Qalbun Syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti bersifat qanaah (menerima apapun keputusan Allah SWT). Ketika bahagia menyapa dan kemudahan menghinggapi, bentuk kesyukuran kita adalah peningkatan amal ibadah. Ketika kesedihan serta kesukaran merayapi, saatnya kita mengingat mereka yang lebih bersedih dan bersusah. Begitulah Islam mengajarkan perihal kesyukuran melalui hadits Rasulullah-Nya.

  1. Al azwaju shalihah atau pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh mampu menciptakan suasana islami dalam keluarga. Dalam QS. An-Nur: 26, Allah SWT berfirman bahwasanya laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik pula. Sehingga untuk mendapatkan pasangan hidup sholeh sebagai penjemput kebahagiaan dunia, hendaknya kita meningkatkan kualitas keimanan kita.

  1. Al auladun abrar atau anak yang sholeh.

Iman adalah sesuatu yang tidak dapat diwarisi. Oleh karenanya sebagai seorang manusia tugas kita adalah berusaha dan berdoa untuk mendapatkannya. Salah satu doa tersebut tertera dalam QS. As-Shaffat: 100, “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang sholeh.”

  1. Al biatu shalihah atau lungkungan yang kondusif untuk iman kita.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan ‘fitrah’. Maka, kedua orang tuanya (mewakili lingkungan) yang dapat menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R Bukhari). Dari hadits tersebut dijabarkan bahwasanya lingkungan terutama keluarga memegang peran penting dalam konstruksi keimanan kita. Namun ketika kita tidak menemukan hal-hal pembangun karakter keislaman tersebut di rumah, kita dapat mencarinya di tempat lain, kemudian membawanya ke rumah.

  1. Al malul halal atau harta yang halal.

Paradigma dalam islam adalah kualitas harga, bukan kuantitasnya. Kualitas harta dilihat dari keberkahan/kehalalan dalam memperolehnya. Namun hal ini bukan berarti Islam tidak menganjurkan kita untuk kaya. Sebab dengan menjadi kaya, seorang muslim lebih berpeluang untuk memperoleh syurga-Nya melalui shadaqah.

  1. Tafakuh fi dien atau semangat memahami agama.

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga” (H.R Muslim). Hadits ini dapat menjadi motivasi kita semua untuk lebih bersemangat menuntut ilmu. Sebab dengan ilmu, kebahagiaan dunia serta akhirat mutlak kita raih.

  1. Umur yang barakah.

Sekali kagi Islam tidak berbicara mengenai kuantitas, namun kualitas. Oleh karenanya usia seorang muslim mampu melebihi umurnya. Sebab kiprah dan karyanya dikenang oleh khalayak, meskipun raganya telah tiada.

Itulah ketujuh kunci kebahagiaan dunia yang disampaikan oleh Ibnu Abbas ra. Mudah-mudahan kita semua didekatkan kepada ketujuh kunci tersebu

Sumber:

  1. http://www.eramuslim.com/oase-iman/7-indikator-kebahagiaan-dunia-menurut-sahabat-ibnu-abbas.htm#.UzfpkIVq9cq
  2. http://muslim.or.id/doa-dan-zikir/doa-meminta-anak-yang-sholeh.html
  3. http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/gapai-surga-dengan-ilmu-agama.html
  4. Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/-XTXpNPiKheY/UpYYVnz5pVI/AAAAAAAAAnA/VWiluXy8nfE/s1600/bahagia+dunia.jpg

#YukBaca_ed.Kamis_24Apr2014

#MuslimNegarawanCintaBaca

Image

“Pada 651 Imperium Persia dibebaskan di tangan kaum Muslim dan menyusul Imperium Romawi yang dibebaskan pada 1453. Islam lalu menyatukan kedua imperium dan meluaskan wilayahnya hingga mencapai 20.000.000 km2 dan memberikan kesejahteraan melebihi apa yang pernah diberikan kedua imperium sebelumnya.

Mengapa ada satu masa dimana Islam dapat menjadi Inspirasi dan motivasi yang menjadikan pengembannya mulia dan tinggi, namun, pada masa yang lain, justru menampakkan ummat dengan karakter yang berbeda?

Pertanyaan “Why” yang akan dibahas dalam buku ini, sekaligus mengungkap suatu rahasia yang dipegang oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta generasi terbaik dalam Islam.

See beyond the eyes can see, beleive beyond the Inspiration”

#YukBaca_BEYOND_THE_INSPIRATION_by:FelixYSiauw

KAMMIMedsos#TransformasiOrganisasi

Show Your Feeling with Your Writing (Mahdiah Maimunah_Dept.Kemuslimahan) KONFERENSI Ed. APRIL

Writing = Show your Feel

semangat-menulis

Menulis adalah cara paling simple menyuarakan kepekaan hati. Kadang bagi sebagian besar penulis-seseorang yang suka menulis atau meluangkan waktunya menulis- menulis lebih nyaman untuk dilakukan daripada berbicara secara langsung. Tiada batas keseganan yang harus ditatap, tiada kalut yang menyergap karena tak sigap. Semuanya mengalir.

Ruang menulis menjadi kepuasan tersendiri para pelakonnya, karena dengan opini dan bukti yang membersamai tulisannya mampu membuka kebekuan pikiran, membuka kekerasan hati para pembaca. Show your feel yang dimaksud di sini bukan bentuk ekspresi emosional yang mengalir tanpa kematangan analisis. Tapi seperti ini: “Kalau saya tidak menulis, hanya saya sendiri yang tahu betapa peliknya masalah ini menguasai hajat hidup orang banyak. Kalau saya tidak menulis saya tidak bias membagi ide saya ke banyak orang. Kalau saya tidak menulis kebenaran ini bias jadi tak akan terungkap. Kalau saya tidak menulis, pembelajaran yang saya rasakan hanya bermanfaat buat saya sendiri.”

Bahkan uniknya, menulis bias menjadi sarana refleksi antar aktivis. Misalnya, dari tulisan yang diposting di ruang public, kita jadi tahu bahwa wawasan si A sudah sampai sejauh mana, seberapa dalam analisisnya, seberapa buat bukti referensi yang digunakannya. Sementara tulisan kita mungkin belum sesistematis yang lain atau bahkan kurang sebaik tulisan aktivis2 yang lain. Bahkan yang bias jadi membuat kita terpekur, mereka dengan kapasitas intelektualnya bias menghidupkan suasana kritis melalui tulisannya sementara kita belum berani menulis atau untuk membaca berbagai rujukan masih malas.

Dari tulisan ke tulisan: dari rajin-rajin membaca tulisan memudahkan kita menghasilkan tulisan juga. Bahkan tulisan yang kita buat tak relative jauh dari tulisan2 yang kit abaca. Ini juga yang semestinya jadi pelecut kita buat mengisi ruang2 kosong di memori otak kita: membaca berarti menambah suplemen tsaqafah dan keilmuan dan menulis jadi pengikatnya. Secara otomatis juga dengan budaya baca tulis –yang sewajarnya tak cukup semasa SD kita menjadi kenal istilah-istilah baru yang bias dibilang keren. Lucu saja jika semenjak kecil sampai saat ini kata-kata yang dikenal hanya bahasa ibu.

Terjun ke dunia mahasiswa, mengikuti berbagai organisasi dan aktif di dalamnya akhirnya membuat saya menyadari bahwa tulisan-tulisan yang luar biasa dimulai dari dorongan yang tak pernah putus untuk melakukan budaya ini. Ada yang menargetkan perharinya mampu menyelesaikan beberapa tulisan atau beberapa halaman, ada yang memiliki target mingguan dan variasi jangka target lainnya. Intinya ada keistiqamah dengan budaya tersebut. Saling sharing dan mengomentari juga menjadi hal penting dalam peningkatan kapasitas tulisan dan support yang menyenangkan. (cc: KAMMI Madani dengan GKM/Gerakan KAMMI Menulisnya).

Sebuah pelajaran penting bagi saya dan alasan penting mengapa budaya menulis harus tetap ada adalah tulisan itu guru yang tidak mengajari secara mutlak, teman yang mengingatkan dengan cair dan stimulus yang baik untuk memengaruhi kebekuan. Seperti kisah berbalas tulisan antara Soekarno dan Natsir. So, show your feel, show your ideas, show your dream, show your care with your writing.

#MedSos Menulis

(Sabtu, 5 April 2014)

sumber gambar: http://ahmadchan.files.wordpress.com/2014/03/e-book-semangat-menulis.jpg

Apel SIAGA PERDANA KAMMI Medsos (Lapangan Syahida Inn, 20 Maret 2014)

CAM00529

Apel siaga merupakan salah satu agenda dalam rangka penguatan frekwensi gerakan yang dilakukan di seluruh komisariat KAMMI. Agenda ini merupakan salah satu program kerja dari BPH dengan penanggung jawab yakni ketua KAMMI Medsos, Rakhmat Abdil Kholis (FISIP UIN Jakarta angkatan 2012). Selain mengadakan apel siaga, agenda Pensi (Penguatan Frekwesi) yang lain adalah Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit), syuro, dan agenda-agenda lain yang akan dilakukan rutin setiap bulannya.

Apel Siaga ini dumulai pukul 06.30 pagi dan terlambat sekitar 45 menit dari perencanaan. Pengurus ikhwan yang hadir adalah Firdaus (FKIK UIN Jakarta angkatan 2013) sedangkan yang akhwat yang hadir adalah Lilih (F.Psi UIN Jakarta angkatan 2012), Nusa (F.Psi UIN Jakarta angkatan 2012), Meisya (F.Psi UIN Jakarta angkatan 2012), Sri (F.Psi UIN Jakarta angkatan 2011), Popon (F.Psi UIN Jakarta angkatan 2011), Nadia (FKIK UIN Jakarta angkatan 2011), Miftah (FKIK UIN Jakarta angkatan 2012), dan ukhty Risi.

Apel siaga yang dikomandani oleh Rakhmat ini beragendakan:

1. Info kabar kader

2. KP membahas teknik lapangan untuk aksi pemilu dari KAMDA Tangsel.

3. KP membahas acara gabungan.

Apel siaga ini selesai pukul 7.30 WIB.Mudah-mudahan apel siaga ini menjadi evaluiasi untuk lebih ontime dalam semua agenda KAMMI.

Wassalamu’alaiykum warrahmatullahi wabarakatuh

Ketentuan Kepenulisan “TIGA PROGRAM TERBARU KP”

Assalamualaiykum warrahmatullahi wabarakatuh

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Medsos memiliki sebuah program baru guna menggelorakan dakwah melalui media sosial …

tiga program terbaru KP

 

KETENTUAN KEPENULISAN:

 

1. YUK BACA

Tujuan: menggeliatkan minat baca kader KAMMI Medsos

Periode publish: kamis malam via FB, Twitter, Whatsapp, dll, (dapat ditambahkan media sosial lain sesuai kebutuhan) by admin

Tatacara: admin akan menuliskan secuplik kalimat dari sebuah buku yang recommended untuk dibaca via FB, Twitter, Whatsapp, dll

 

2. MIMBAR

Tujuan: memperluas khasanah keislaman kader KAMMI Medsos

Periode publish: sabtu malam via FB dan Blog (dapat ditambahkan media sosial lain sesuai kebutuhan) by perwakilan divisi

Tatacara: setiap divisi akan digilir untuk menulis seputar artikel islam. Maksimal penulisan konten : 2 lembar A4 font size 12 (judul font size 14) Times New Roman spasi 1,5 margins normal. Sertakan sumber. bentuk ARTKEL. Tema dan judul bebas.

 

3. KONFERENSI

Tujuan: menguak dan mengasah potensi menulis kader KAMMI Medsos

Periode publish: sabtu malam di awal bulan via FB dan Blog (dapat ditambahkan media sosial lain sesuai kebutuhan) by all kader

Tatacara: semua kader dapat mengirimkan ESSAY (karangan beropini) dengan ketentuan penulisan max halaman bebas, lembar A4 font size 12 (judul font size 14) Times New Roman spasi 1,5 margins normal. Tema dan judul bebas.

 

tulisan dikirim ke alamat email: rumaishaazlam@gmail.com

CP: 087 871 884 652 (Miftah pspd fkik 2012)

 

sekian yang dapat saya sampaikan, jika ada pertanyaan silakan hubungi kontak di atas

 

menulis kerana Allah

Salam semangat salam TRANSFORMASI

Wassalamu’alaiykum warrahmatullahi wabarakatuh

 

sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/-Tw1gYfo_Xns/TwxLTvfkLTI/AAAAAAAAAVg/56KHgeqvIm0/s320/menulis+karena+Allah.jpg